Sepak Bola Indonesia Mengalami Penurunan Yang Signifikan

Sepakbola nasional di era 1980-1990-an masihlah cukup disegani di kawasan Asia Tenggara dan ASIA, pada masa itu kita turun ke lapangan hijau dengan kepala tegak serta penuh dengan percaya diri, Thailand, Malaysia dan Singapura bukan merupakan tim yang sulit untuk dapat dikalahkan bahkan yang lebih mengagumkan, kita hampir bisa lolos ke Piala Dunia 1986 Meksiko jika berhasil menundukkan hadangan terakhir kita pada saat itu Korea Selatan.

Bukti lainnya yaitu, pada tahun 1991, Tim Nasional kita berhasil mencuri, medali emas di acara Sea Games Manila. Namun setelah era emas itu berlalu, ….duh, prestasi tidak pernah kunjung datang lagi selama lebih kurang 20 tahun! …Padahal hal ini, jika kita ukur dari usia tersebut dengan perkembangan manusia, maka tentu harusnya ada harapan yang besar bagi kita sebagai pecinta dan pemerhati yang antusias sepakbola nasional.

Indonesia termasuk dalam salah satu negara dengan antusias sepak bola yang sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya peran masyarakat yang rela mengorbankan jam tidurnya hanya demi dapat menonton pertandingan yang semakin hari semakin seru.

Walaupun begitu, sangat disayangkan jika Indonesia hanya pernah sekali berpartisipasi di ajang FIFA World Cup, yaitu pada tahun 1938 di Negara Prancis, yang waktu itu pernah membawa nama Hindia Belanda karena saat itu masih berada di bawah penjajahan Belanda.

Lantas, mengapa sampai sekarang Sepak Bola Indonesia tidak pernah tampil lagi di piala dunia? Apakah sesusah itu dalam mencari 11 anak berbakat di Negeri Khatulistiwa ini?

Tentu saja tidak sulit. Bakat dan kemauan boleh ada dalam diri siapapun itu, tetapi jika kualitas persepakbolaan yang ada di negeri ini tidak kunjung maju, hal itu tentu akan mempengaruhi pencapaian prestasi dalam tim nasional. Lalu, apa saja penyebab sepak bola Indonesia sangat sulit untuk berkembang?

1. Tidak ada pembinaan sejak usia dini

Seperti yang telah kamu ketahui pembinaan usia dini sangat penting salah satunya dalam sepak bola yang ada di Indonesia. Sebagaimana yang telah diterapkan oleh Negara Spanyol selama bertahun-tahun, anak laki-laki biasanya akan diajarkan untuk bermain bola sejak usia mereka masih 5 tahun, walaupun yang akan diajarkan hanyalah hal dasar seperti cara menendang bola. Tidak seperti halnya di Negara Spanyol, anak-anak di Indonesia justru mulai belajar untuk bermain bola saat menginjak usia 10 tahun atau lebih dan bergabung di klub pada usia sekitar 15 tahun. Padahal, kalau saja anak-anak bisa mengikuti jejak Negeri Matador tersebut, pasti persepakbolaan negeri ini akan lebih maju kedepannya.

2. Kurangnya sekolah serta minat sepak bola di berbagai daerah

Indonesia sudah memiliki beberapa sekolah sepak bola yang kualitasnya baik, akan tetapi lokasinya selalu terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta atau di daerah Jawa lainnya. Sedangkan masih ada banyak anak yang ingin bisa mengasah bakat mereka di bidang ini lewat sekolah sepak bola di daerahnya tapi terkendala uang serta jarak. Akan lebih baik lagi kalau ada sekolah sepak bola yang berada di pulau lainnya di luar jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, atau Sumatera. Sekolah-sekolah tersebut diharapkan dapat di jangkau oleh seluruh putra daerah yang tersebar di berbagai wilayah yang ada di Indonesia.

3. Minimnya pelatih lokal yang berkualitas

Bicara mengenai kualitas pelatih lokal, saat ini belum banyak dari bagian mereka yang memiliki akreditasi A. Hal ini tentu saja akan mepengaruhi perkembangan sepak bola yang ada di Indonesia, karena dalam membentuk suatu tim yang hebat diperlukan pelatih yang berkualitas dalam melatihnya. Karna itu, tahun ini PSSI mengadakan kembali menggelar kursus pelatih AFC. Program ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak pelatih lokal yang dapat membawa timnas sepak bola ke jenjang turnamen yang jauh lebih tinggi.

4. Tidak direstui oleh orangtua

Melihat kondisi sepak bola yang ada di Indonesia yang belum tertata dengan rapi, tidak heran jika banyak orangtua yang tidak setuju jika anaknya memilih sepak bola sebagai karier yang bagus di masa depan. Salah satu hal yang paling berpengaruh besar yaitu adalah tentang keterlambatan gaji yang dibayar. Yang di ungkapkan laporan Federasi Persatuan Pesepakbola Profesional Internasional (FIFPro), ada sekitar 82% pemain yang mengatakan mereka terlambat dalam menerima gaji, dengan hampir sepertiga dari mereka yang menghadapi penundaan antara tiga sampai enam bulan. Selebihnya, banyak orang tua yang menilai bahwa sepak bola Indonesia hanya merupakan salah satu hobi semata dan belum menjadi industri.

5. Target untuk sepak bola ke depan gak jelas

Pemerintah Indonesia belum mempunyai visi dan misi yang jelas di masa depan untuk mengenai timnas sepak bola. Berbeda halnya dengan negara Cina. Walaupun antusiasme sepak bola di Cina tidak sebesar seperti yang ada di Indonesia, pemerintahnya justru sudah memiliki tujuan yang jelas dalam beberapa tahun yang akan datang, yaitu untuk menjadi negara adikuasa di dalam sepak bola tahun 2050.

Hal ini, tentu saja, bukanlah suatu hal yang mustahil untuk dapat dicapai oleh Indonesia, jika para petinggi sepak bola negeri ini mampu menargetkan pencapaian penting dalam jangka waktu yang panjang. Melihat ke depan adalah hal yang penting dan harus diimbangi dengan langkah-langkah untuk dapat mencapai impian tersebut.